TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI BLOG SEDERHANA INI. MOHON MENINGGALKAN LINK DAN KOMENTAR

Wanita Gembrot

Saat itu aku, oh bukan. Temanku, lakilaki, hendak bepergian. Di halte dia menunggu bus berjam-jam lamanya. Hari itu sangat ramai, sehingga setiap bus yang lewat penuh dengan penumpang. Maklum, di kotaku ini sedikit tertib. Tak boleh ada penumpang bus yang berdiri. Setiap penumpang, harus mendapat tempat duduk.
Tepat 2 jam 7 menit 35 detik semenjak dia menunggu, barulah dia mendapatkan bus yang berhenti menghampirinya. Lega…rasanya. Meski halte yang disediakan berAC, namun menunggu yang sekian lama tetap membuatnya gerah. Senang sekali dia akhirnya mendapati bus yang berhenti. Namun, oh.
Ternyata, tinggal tersisa satu tempat duduk di sisi kiri dekat jendela, berdampingan dengan wanita gembrot yang, menurut wanita itu sendiri, cantik luar biasa.
Tak ada pilihan lain, temanku itupun terpaksa duduk di sebelah wanita gembrot itu.
Temanku orang yang ramah. Sebelum duduk di kursi yang dijatahkan, dia tersenyum pada si wanita gembrot itu. Alih-alih membalas senyum, wanita itu tibatiba purapura nges-em-es suaminya yang sedang kerja. Temanku teramat baik, karenanya dia tidak tersinggung. Maka duduklah dia dengan santai di samping wanita gembrot tadi. Selesai nges-em-es suaminya, wanita itu melirik temanku. “Ganteng juga nih cowok,” begitu mungkin pikirnya. Dan memang benar, semua temanku yang lakilaki berwajah ganteng. Entah di dunia maya, maupun nyata. Mungkin tadinya tidak, tapi setelah berteman denganku tibatiba saja berubah ganteng. wew..
Temanku berlagak tidak tahu bahwa dirinya diperhatikan. “Cuek aja kale…,” begitu kirakira. Tapi kembali, temanku teramat baik. Dia kasihan pada wanita itu, barangkali saja butuh teman ngobrol. Maka terjadilah peristiwa itu.
Dengan segenap kesopanan yang dimiliki dan senyum termanisnya temanku memulai pembicaraan.
“Baru pulang ngajar Bu?” temanku bertanya.
Alih alih menjawab pertanyaan, wanita itu tibatiba saja berdiri dan membentak.
“APA? Kau kira aku cewek apaan hah? Jangan asal bicara kamu ya! Enak saja ngajak kencan. Aku punya suami tahu! Heh manusia edan, sekali lagi kau tanyakan itu padaku, aku laporkan kau ke polisi. Kau tahu? Suamiku lebih ganteng dari pada KAU! Hhhhh…” Wanita itu menunjukkan kejengkelannya, merah muka jeleknya itu. Padahal, aku yakin, suaminya tak akan lebih ganteng dari temanku itu. kau tahu, Kawan?
Karena berdiri dan membentak, terang saja semua penumpang mengarahkan pandangannya kepada temanku itu. Pun dengan wajah penuh kebencian dan sinis. “Huh. Dasar lakilaki buaya! Hidung belangbelang!” mungkin begitu pikir mereka. Temanku malu bukan main dibuatnya. Tapi bukan temanku, jika tak mampu meredakan kemarahan. Setelah beberapa saat terkaget dan sedikit merah muka gantengnya, dia menata diri kembali. Dia tetap diam, duduk manis di tempatnya, seakan tak terjadi apa-apa.
Beberapa saat setelah wanita itu mengatangatai temanku dengan segala kalimatnya, maka dia kembali duduk dan membuka bukunya. Sepertinya kumpulan cerpen, kalau tidak ya novel. Tapi temanku tahu, dia hanya purapura baca untuk menenangkan diri dan mengembalikan situasi. Setelah beberapa saat, wanita gembrot itupun menyampaikan sesuatu pada temanku.
“Maaf ya Mas, saya ini ahli psikologi. Saat ini sedang mengambil data dari riset yang saya kerjakan mengenai perubahan sikap, mimik, dan lainlain pada sejumlah responden yang diberi perlakuan seperti tadi. Sekali lagi mohon maaf ya Mas?!”
Tak menjawab permintaan maaf itu, temanku tibatiba saja berdiri dan berkata sedikit keras.
“APA? Kau mau berkencan denganku hanya dengan imbalan sesedikit itu? Emang aku cowok apaan HAH???!”
Habis berkata demikian, temanku pergi meninggalkan tempat duduknya dan meminta sopir menghentikan busnya. Entah di mana.
“Kiri..kiri…!”
Yang penting turun, dan tak berurusan lagi dengan wanita gembrot itu. HUH. Menjengkelkan!

No comments:

Post a Comment

mari, kuhargai keikhlasanmu