MENULIS***lagi***MENULIS
Alhamdulillah, salah sah satu obsesiku akhirnya terkabul. Ya, hari ini tulisanku berhasil nongol di media Blogspot.com. Tentu tak salah jika aku merasa sangat senang dan bahagia. Dan masalah honor, sungguh, tak pernah aku pikirkan. Seberapapun besar honor yang akan diberikan, aku tak pernah pedulikan. Bahkan tak akan pernah kuambil. Aku sudah sangat berterimakasih atas dimuatnya tulisanku ini. Bagiku itu sudah lebih dari cukup.
Mengapa aku menulis?
Aku pernah dengar dari entah siapa, katanya "Dengan membaca kita bisa mengubah pola pikir, dengan menulis kita bisa mengubah dunia". Kalimat itu sangat ada benarnya. Namun bagi diriku itu terlalu muluk. Mengubah budaya keluargaku sendiri saja aku sangat kesulitan. Bagaimana mungkin aku akan mengubah dunia? Bermimpipun aku tak berani. Hanya yang jelas, jika aku masih mau dan terus menulis, setidaknya aku sudah mengubah diriku sendiri. Mengubah budayaku sendiri. Dan bagiku itu sudah sangat luar biasa. Entah bagi saudara yang lain.
Aku bukan penulis, hanya pecinta.
Sungguh aku tak berani mengatakan diriku dengan segala ketidakcerdasanku ini adalah penulis(dalam aarti luas), meski beberapa media pernah membantu mempublikasikan tulisanku. Bagiku, menulis hanyalah bagian dari tanggung jawab keilmuan. Menulis adalah salah satu kegemaran. Menulis adalah juga wujud tanggung jawab. Karena agak aneh jika aku terus menerus mendorong anak-anakku untuk senantiasa belajar dan menulis, namun aku sendiri tak pernah menghasilkan tulisan. Sehingga dengan tulisan ini, seperti apapun bentuk dan kualitasnya, setidaknya bisa menjadi contoh bagi anak-anakku. Aku berharap suatu saat mereka bisa meniruku. Menulis, tentunya dengan lebih baik dan lebih berkualitas.
Aku pecinta, bukan penyair.
Ya. Aku adalah pecinta sastra, bukan ahli sastra. Dan jika suatu saat nanti tulisanku di selanjutnya ada yang berupa syair, sajak, ataupun puisi, itu hanya karena aku ingin menyusun rangkaian kalimat agar terlihat lebih rapi dan terasa indah. Setidaknya bagi diriku sendiri. Sungguh, aku tak berani mengatakan diri sebagai pujangga/penyair. Hal ini karena, menurut kalangan kejawen, seorang pujangga harus memiliki 8 kelebihan, yaitu:
1. Parameng sastra utawi amengsastra, yang artinya: mempunyai kelebihan di bidang sastra.
2. Parameng kawi(pinunjul ing kawi). Kawi artinya istilah kuno yang termuat dalam buku-buku kuno. Pujangga harus memiliki kelebihan itu.
3. Mardi basa(awibasa), yang artinya rajin mengolah bahasa.
4. Mardawa lagu, artinya ahli nembang(menyanyi) lan gendhing(dan Musik)
5. Nawung krida, artinya halus perasaan, bisa tahu perasaan dan keinginan orang lain yang belum tersampaikan (terucap).
6. Sambegana, artinya punya sifat dan perilaku utama.
7. Awicarita, artinya pandai membangun cerita yang baik.
8. Mandraguna, artinya Pandai dan mumpuni (digdaya).
kedelapan syarat itu adalah ajaran kejawen, yang tentu agak berbeda dengan pemahaman orang jaman sekarang. di jaman sekarang ini, jika seseorang sudah mampu merangkai kata yang indah dan dikagumi orang lain maka sudah bisa dikatakan pujangga. Dus, kita tak berhak menyalahkan jika ada teman yang menyebut dirinya sebagai penyair karena memang beliaunya lihai dalam bersayair dan indah.
Aku belum mampu berbahasa inggris.
ya, entah salah siapa hingga sampai sekarang ini aku kurang menguasai bahasa internasional itu. semoga suatu saat nanti aku mampu. Karena belum mampu, maka kedepan dalam tulisan-tulisanku pun tak akan pernah menggunakan bahasa inggris. Namun jika dengan menggunakan bahasa jawa(bukan huruf jawa), ada kemungkinan. karena memang hanya bahasa Indonesia dan bahasa jawa saja yang aku kuasai. Bahkan bahasa jawapu, aku juga belum mumpuni. Aku berharap itu bisa dimaklumi sebagaimana aku memaklumi saudara-saudara yang lain yang menggunakan bahasa inggris dalam membuat tulisan. aku tak pernah tersinggung ataupun marah jika seorang teman menulis dengan berbahasakan inggris atau bahasa yang lain yang tak aku fahami. tak ada hak bagi diriku kemudian untuk mengumpatnya dengan kata-kata kotor dengan bahasaku, yang belum tentu dimengerti oleh orang lain.
Bahasa menunjukkan bangsa.
Tidak setiap negara bisa disebut bangsa. Syarat untuk disebut bangsa adalah memiliki bahasa dan huruf(tulisan). disebut bangsa Indonesia karena memang kita memiliki Bahasa Indonesia. Disebut bangsa china karena memang ada bahasa dan tulisan(huruf) china. Demikian juga Korea, Ynunani, Arab, dan lain-lain. Tak ada itu bahasa malaisia. yang ada adalah bangsa melayu, bahasa melayu.
Aku adalah bagian sangat kecil dari Bangsa Indonesia. Bukan Bangsa Inggris.
Sungguh, AKU BANGGA BERBANGSA DAN BERBAHASA INDONESIA.
Aku lahir dan dibesarkan di tanah jawa, salah satu pulau bagian dari Negara Indonesia. Sejak kecil aku dibiasakan berbahasa dan berbudaya Jawa. Betapa banyak nilai kebaikan yang diajarkan di sana. Keindahan budaya dan bahasa jawa adalah bagian dari keragaman kekayaan Bangsa dan Negara Indonesia. Aku merasa bertanggung jawab untuk melestarikannya. AUKUPUN BANGGA BERBAHASA JAWA.
Di bawah ini saya tuliskan beberapa peribahasa (paribasa jawa)dan persamaannya dalam entah bahasa apa. saya kasih tanda titik-titik, karena saya tak tahu bahasa apa.
Manungsa mono sabisa-bisa iya arekadaya; dene kasil lan orane Gusti Allah sing nemtoake (b. jawa)
Manusia yang merencanakan, Tuhan yang menentukan. (b. Indonesia)
Man proposes, God disposes (b. .....)
Insyanu yudabbiru, Allahu yutakdiru (b. .....)
Homo proponit, sed Deus disponit (b. .....)
Seje kulit, seje anggit (b. Jawa)
Lain orang, lain hatinya (b. Indonesia)
Many men many minds (b. .....)
Quot capita, tot sensus (b. .....)
Kacang mangsa tinggala lanjaran (Jawa)
Rebung tiada jauh dari rumpunnya (Indonesia)
De appel valt niet ver van de boom (.....)
Like soon like father, like daughter like mother(.....)
Semarang, april 2010.
terima kasih Blogspot.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Pembuka yang lugas. Terimakasih.
ReplyDeletelanjutkan...
ReplyDeletendak perlu merubah dunia pak...merubah diri sendiri kita saja. :-) tulisannya manteB tenan. keep blogging ja pak
ReplyDeletesebuah tulisan inspiratif bagaimana membangkitkan motivasi menulis secara internal. sungguh, menulis merupakan sebuah cara utk membangun sebuah peradaban yang mencerahkan.
ReplyDeleteMAAF BOSS BELUM sempat baca kabeh, mau sholat dulu
ReplyDeletelha kawit biyen nembe siji tulisane.
ReplyDeletera bisa bahasa inggris kayane aku ngerti salahe sapa. salahe nenek moyange njenengan, karena orang pelaut dan sukanya makan kimpul eh oyek ding apa malah gaking.
katanya meh buat cerita tentang kita, homo attaqwaensis, di arsip yang mana yah. apa aku yang bloon yah ga bisa carinya.
yah sukses selalu untuk yang punya blog ini, semoga nanti kita bisa saling kasih saran, kritik ato apapun termasuk sembako yang beli di dargo he..he.. alhamdulillah lewat blog kita masing-masing.
tapi dari gaya bahasa penulisannya dah agak mending, hanya butuh sedikit konsistensi, dalam hal nulis maupun gaya bahasa.
gud lak lah (eh melu ga bisa bahasa inggris)
sip, sip sekali Pak Sukoku ini
ReplyDelete