TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI BLOG SEDERHANA INI. MOHON MENINGGALKAN LINK DAN KOMENTAR

KESUSASTERAAN INDONESIA

i.
Asal mula Kesusasteraan Indonesia

Kapan sih, Kesusasteraan Indonesia berawal?
Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita pelajari puisi di bawah ini;



Emaslah sumatera sungguh sejahtera
Serta permai intan dan urai
Mari kuminta menadahkan tangan
Kepada Allah Tuhan Begawan
Supaya bangsaku di pulau Kenaka
Senang sentausa segenap ketika
Lagi mulia lepas merdeka
karena hatiku haram 'lai girang
Kalau bangsaku diinjakkan orang
(dari: Tanah air, Muh. Yamin)

Puisi di atas adalah salah satu bait dari puisi Tanah air, karya Muhammad Yamin. Puisi tersebut termuat dalam majalah Yong Sumatra, yang terbit pada tahun duapuluhan. mari kita pelajari!
a. sajak di atas berisi pujaan terhadap tanah air, hasrat merdeka, dan penentangan terhadap penjajah. Juga mengandung rasa kebangsaan atau semangat nasional.
b. puisi tersebut berbentuk sembilan baris seuntai. Karenanya, puisi tersebut adalah puisi baru, yang bebas dari pola-pola lama (puisi-puisi sebelumnya belum ada).
c. Baik gaya maupun perbendaharaan kata-katanya, bahasa dalam puisi di atas banyak berbeda dengan bahsa dalam puisi lama.

Dari uraian di atas, bisa kita simpulkan bahwa kesusasteraan Indonesia dimulai pada tahun


ii.
Macam-macam bentuk puisi.

Dalam kesusasteraan melayu kita mengenal bermaam-macambentuk puisi. Tiap-tiap macam mempunyai pola sendiri-sendiri;banyaknya baris tiap bait, banyaknya suku kata dalam tiap baris, irama, dan sajak. Jadi puisi dalam Kesusasteraan Melayu terikat oleh pola-pola tertentu. Demikian pula puisi-puisi dalam Kesusateraan daerah yang lain. Puisi dalam kesusasteraan Jawa, yang dinamakan tembang juga terikat oleh pola-pola tertentu.

Karena adanya pola-pola tertentu itulah, maka tiap macam bentuk puisi mempunyai nama sendiri. Meskipun sama-sama puisi beruntai empat, tetapi jika sajaknya berbeda, maka namanya berbeda pula.
Bandingkan misalnya:
Pantun~syair~seloka.
Gurindan~karmina.

Sesuai dengan gerak sukma para penyair Indonesia, yang menghendaki kebebasan pribadi, maka puisi-puisi Indonesia bebas dari pola-pola tertentu. Dengan kata lain, puisi Indonesia itu bebas.

Karena bebas atau tidak terikat oleh pola-pola tertentu, maka nama-nama puisi Indonesia didasarkan atas jumlah baris tiap baitnya. Dengan demikian ada: Puisi dua baris seuntai, puisi tiga baris seuntai, puisi empat baris seuntai, puisi enam baris seuntai, puisi tujuh baris seuntaipuisi delapan baris seuntai.

Contoh-contoh puisi.
a. puisi dua baris seuntai= distikon

KUCARI JAWAB

Di mata air, di dasar kolam
kucari jawab teka-teki alam

di kawan awan kian kemari
Di situ juga jawabnya kucari

Di warna bunga yang kembang,
kucari jawab, penghilang bimbang.

kepada gunung penjaga waktu,
kucari jawab kebenaran tentu.

Pada bintang lahir semula,
Kutangis jawab teka-teki Allah.

Ke dalam hati jiwa sendiri,
kuselam jawab! Tidak tercari....

Ya, Allah Yang Maha Dalam..
Berikan jawab teka-teki alam.

O, Tuhan Yang Maha Tinggi,
Kunanti jawap petang dan pagi

Hatiku haus akan kebenaran
berikan jawab di hatiku sekarang.

(dari: Rindu Dendam, Y E Tatengkeng)


Puisi tiga baris seuntai = tersina


BAGAIMANA

Kadang-kadang aku benci,
bahkan sampai aku maki
......diriku sendiri

No comments:

Post a Comment

mari, kuhargai keikhlasanmu