TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI BLOG SEDERHANA INI. MOHON MENINGGALKAN LINK DAN KOMENTAR

Superioritas dan Arogansi

Superioritas, kalau gak salah tangkap, kirakira bermakna "merasa lebih dari yang lain." Ini berlaku dalam hal apapun. Jika anda punya paman/Pak Lik (Adik dari Bapak/Ibu), seharusnya kan anak-anak mereka memanggil anda Mas atau Mbak. Tapi apa yang kemudian terjadi, jika ternyata umur mereka lebih tua daripada kita? atau, ternyata ukuran badan mereka jauh lebih "meraksasa" ketimbang kita? atau lagi, lebih mapan, lebih kaya daripada kita?


Baik, ambil contoh lain. Jika kita punya adik kelas yang ukuran tubuhnya Jumbo dan kita mini sangat. Apa yang terjadi? Kebanyakan (tidak semuanya lho...) mereka seakan merasa sekelas dengan kita, atau bahkan kita dianggap sebagai yuniornya. ya kan? Kasus yang lain, masih ketika masa sekolah. Pernahkah anda punya teman yang nilainya selalu jauh melejit ketimbanga nilai yang anda dapat? Nah, tebakan saya, orang orang yang semacam itu (yang selalu mendapat nilai bagus) akan merasa lebih dalam segala hal. Kecenderungannya dia akan meremehkan anda. Benar tidak?

Sekarang, pernahkan anda hidup miskin? Kalau belum, maka bersyukurlah. Jikalau sudah, maka pertanyaan selanjutnya, pernahkan anda berjalan bersama dengan teman yang jauh lebih kaya ketimbang anda? Apa pula yang terjadi? Pernahkan anda disuruhsuruh, diperintah seenaknya oleh orang yang merasa dirinya lebih ketimbang anda?

Nah. Itu dia Superioritas.

Arogansi. Kalau gak salah, bisa kita artikan sebagai sikap kesewenang-wenangan.Bertindak sakkarepe dhewe, golek menange dhewe. perilaku ini, biasanya selalu menyertai sikap superioritas tadi. Yang merasa lebih kaya, merasa lebih pintar, merasa lebih kuat, merasa lebih besar, merasa lebih mulia, merasa lebih berkuasa (apalagi) hampir bisa dipastikan akan bersikap seperti itu.

Contoh yang gampang, di jalan Raya.
Nah ini gremengan saya.
Seringkali, saya jengkel dengan sikap para sopir Truk, Tronton, Bus, ataupun berbagai kendaraan beroda empat atau lebih yang lainnya. Seringkali saya melihat arogansi itu di jalan raya. Sebagai pengendara sepeda (motor), jelas tak akan pernah berani beradu bemper dengan kendaraan beroda 4 atau lebih. Bisabisa remuk kendaraan saya.
Maksud saya begini. Setiap jalan raya, sudah dibagi dengan marka jalan. Jika untuk jalan dua arah, masingmasing sudah punya bagian sendirisendiri. Tapi, seringkali saya dibuat jengkel oleh dhedhemit-dhedhemit itu. Pada saat saya sudah ambil jalur yang benar, mereka nyelonong saja mengambil jalan dari arah depan saya. Mepet lagi. Mau gak mau, aku harus turun aspal. Pontangpanting, kerepotan mengendalikan laju kendaraan. Mau di tabrakkan? walah, bisa berabe tuh..
Pada saat lain, jika kita sedikit saja menghalangi jalan mereka(meski tidak sengaja) suara klakson yang teramat memekakkan telinga langsung menyalak. Pikran jelek saya, bagaimana kalau yang ugal-ugalan sepertiu itu sekali waktu tak lempar koin pada kaca depannya. Tapi, kembali lagi ke piciknya pemikiran saya, selalu saja timbul kekhawatiran akan karma. Berbeda dengan mereka.
Sekali waktu, saya juga naik Bus AKAP. sengaja saya seringkali milih tempat belakang sopir, dengan harapan bisa melihat suasana jalan di depan Bus. Dan seringkali saya melihat dengan jelas, betapa kebanyakan (tidak semua lho..) merasa tak pernah punya salah. Jikalaupun di depan jelas ada makhluk yang lebih kecil dan berani menentangnya, maka dengan segera akan digilasnya. Seakanakan mereka tak kenal dosa.
Dan sepertinya, ini berlaku di semua ranah. Bukan hanya di jalan raya.
Maka, jangan skalikali menabrak yang lebih kuat, lebih besar, lebih kuasa.
Maut menanti anda..

No comments:

Post a Comment

mari, kuhargai keikhlasanmu