Dalam setiap pelatihan jurnalistik dasar,
kita pasti akan diperkenalkan teknik menulis berita dengan 5W + 1H yang
merupakan dasar penulisan berita bagi wartawan. Pertanyaannya, apakah
selain wartawan tidak memerlukan dasar menulis ini? Perlu, dan memang
terbukti sangat efektif bagi semua penulis, siapapun itu.
5W + 1H adalah singkatan dari “what, who, when, where, why, how,” yang dalam bahasa Indonesia menjadi “apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana.” Apa yang menjadi bahan pemberitaan, siapa saja yang terlibat, kapan kejadian berlangsung, di mana tempat kejadian, mengapa bisa terjadi, dan bagaimana kejadian itu berlangsung.
Rumus itu nampaknya begitu mudah, namun belum tentu setiap kita bisa menerapkannya dalam sebuah kasus. Banyak orang yang bingung untuk mengawali sebuah tulisan. Mulai dengan kata apa, cerita dari mana, bagaimana merangkai kalimat, dan lain-lain. Sebenarnya hal ini mudah, karena menulis dan berbicara nampaknya tak beda jauh. Hanya memang, bahasa tulis dan bahasa lisan tidaklah sama. maka salah satu cara terbaik adalah membaca terlebih dahulu. Penulis tanpa membaca adalah penulis tergoblog. wehehe..
Baiklah, mari kita tulis sebuah contoh berita dengan dasar 5W+1H seperti berikut;
Ujian Nasional bagi para siswa SMP (WHAT) yang menurut rencana akan berlangsung mulai tanggal 23 hingga 26 April 2012 telah berlangsung 2 hari. Meskipun UN adalah agenda tahunan, namun tetap saja ada masalah-masalah yang timbul dalam praktek pelaksanaan di lapangan. Contoh kasus adalah kelalaian pengawas ujian (WHO). Misalnya seperti yang terjadi di SMP Lek Murman (WHERE) pagi tadi, yang merupakan hari ke-2 pelaksanaan UN SMP (WHEN). Saat pengembalian soal ternyata masih ada beberapa sampul pengembalian LJK yang belum diisi keterangannya, bahkan belum disegel. Selain itu, kasus yang lainnya adalah daftar hadir siswa yang tidak diisi oleh pengawas, namun disuruh mengisi peserta ujian (HOW). Padahal menurut peraturan yang tertera dalam POS UN 2012 mestinya pengawas yang menulis nama dan nomor peserta ujian secara lengkap. Yang lebih naif lagi, ada beberapa berita acara yang masih kosong padahal sudah dimasukkan amplop pengembalian dan sudah disegel (HOW). Hal ini dimungkinkan karena keterangan yang kurang jelas saat breaving oleh kepala sekolah di hari pertama pelaksanaan UN (WHY).
Nah, itu adalah contoh reportase/berita yang menggunakan rumus 5W+1H. Untuk contoh artikel ataupun opini, akan segera menyusul nanti. Insya Allah. Dus, karena saya bukan wartawan, tentu tidak menutup kemungkinan tulisan itu kurang memadai. Namun dibanding yang masih pemula, tentu tulisan saya akan nampak gagah. he.he..
salam.Dihara Kosu.
5W + 1H adalah singkatan dari “what, who, when, where, why, how,” yang dalam bahasa Indonesia menjadi “apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana.” Apa yang menjadi bahan pemberitaan, siapa saja yang terlibat, kapan kejadian berlangsung, di mana tempat kejadian, mengapa bisa terjadi, dan bagaimana kejadian itu berlangsung.
Rumus itu nampaknya begitu mudah, namun belum tentu setiap kita bisa menerapkannya dalam sebuah kasus. Banyak orang yang bingung untuk mengawali sebuah tulisan. Mulai dengan kata apa, cerita dari mana, bagaimana merangkai kalimat, dan lain-lain. Sebenarnya hal ini mudah, karena menulis dan berbicara nampaknya tak beda jauh. Hanya memang, bahasa tulis dan bahasa lisan tidaklah sama. maka salah satu cara terbaik adalah membaca terlebih dahulu. Penulis tanpa membaca adalah penulis tergoblog. wehehe..
Baiklah, mari kita tulis sebuah contoh berita dengan dasar 5W+1H seperti berikut;
Ujian Nasional bagi para siswa SMP (WHAT) yang menurut rencana akan berlangsung mulai tanggal 23 hingga 26 April 2012 telah berlangsung 2 hari. Meskipun UN adalah agenda tahunan, namun tetap saja ada masalah-masalah yang timbul dalam praktek pelaksanaan di lapangan. Contoh kasus adalah kelalaian pengawas ujian (WHO). Misalnya seperti yang terjadi di SMP Lek Murman (WHERE) pagi tadi, yang merupakan hari ke-2 pelaksanaan UN SMP (WHEN). Saat pengembalian soal ternyata masih ada beberapa sampul pengembalian LJK yang belum diisi keterangannya, bahkan belum disegel. Selain itu, kasus yang lainnya adalah daftar hadir siswa yang tidak diisi oleh pengawas, namun disuruh mengisi peserta ujian (HOW). Padahal menurut peraturan yang tertera dalam POS UN 2012 mestinya pengawas yang menulis nama dan nomor peserta ujian secara lengkap. Yang lebih naif lagi, ada beberapa berita acara yang masih kosong padahal sudah dimasukkan amplop pengembalian dan sudah disegel (HOW). Hal ini dimungkinkan karena keterangan yang kurang jelas saat breaving oleh kepala sekolah di hari pertama pelaksanaan UN (WHY).
Nah, itu adalah contoh reportase/berita yang menggunakan rumus 5W+1H. Untuk contoh artikel ataupun opini, akan segera menyusul nanti. Insya Allah. Dus, karena saya bukan wartawan, tentu tidak menutup kemungkinan tulisan itu kurang memadai. Namun dibanding yang masih pemula, tentu tulisan saya akan nampak gagah. he.he..
salam.Dihara Kosu.
No comments:
Post a Comment
mari, kuhargai keikhlasanmu