TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI BLOG SEDERHANA INI. MOHON MENINGGALKAN LINK DAN KOMENTAR

Surat Cintaku

Salam,
Di massa remajaku dulu, aku pernah jatuh hati pada seseorang yang menarik hati. Namun aku tak pernah berani mengungkapkan isi hatiku. Alasannya jelas. Tak ada yang bisa aku banggakan dari diriku. Wajahku tidak tampan, meski kalian akan gagal untuk mengatakan jelek. Tentang kecerdasan, aku tak pernah punya prestasi di sekolah, selama sekolah bahkan. Modal harta, aku bukan termasuk keturunan keluarga kaya. Satusatunya yang kumiliki hanyalah hati, ketulusan dan semangat hidup. Dan aku merasa cintaku tulus padanya.

Lama aku menunggu kesempatan untuk mengungkapkan isi hatiku kepadanya, namun aku tak mampu merangkai kata. Tiga tahun aku menunggu, tak juga datang kesempatan itu. Padahal, seorang teman seringkali mendorongku agar berterusteranglah aku kepada si penarik hatiku itu. Maka kesimpulanku, sebenarnya citaku tak bertepuk sebelah tangan. Cintaku akan terbalas jika aku punya sedikit saja keberanian untuk menyampaikan kepadanya, “I luv U, Shobat.” Hanya itu. Ya, hanya kata semacam itu yang seharusnya aku luncurkan dari bibir manisku kepada sahabatku itu. tapi, walah, sungguh aku tak pernah mampu. Tiga tahun lamanya, hingga aku lulus SMA.
Aku katakan kepadamu, bahwa aku punya semangat hidup. Maka studiku pun berlanjut. Kini aku telah jadi mahasiswa, tak lagi pantas disebut anak remaja. Para dosen memanggilku dengan sebutan “Saudara Mahasiswa.” Luar biasa. Bagiku hal itu sungguh luar biasa. Bodoh, miskin, tidak ganteng, tapi aku ini, Kawanku, sungguh luar biasa. Aku jadi mahasiswa. Jelas aku pantas untuk sedikit berbangga. Sedang si penarik hatiku, walah, tidak sukses dalam Ujian Masuk Perguruan Tinggi yang diikutinya. Pilihannya salah, bisa saja. terlalu tinggi mengambil jurusan di pergurua tinggi. Padahal kecerdasannya luar biasa. Semenjak SD hingga SMA, rangkaing 1 selalu diraihnya. Dia berhasil masuk SMA 1 tingkat kabupaten, sedang aku hanya SMA kecamatan saja. Pun prestasiku, sebagaimana aku sampaiakan di awal, biasabiasa saja. Bahkan jelek luar biasa.
Kini kesempatan datang padaku. Begitu pikiran yang ada di kepalaku. Aku berada di atas angin. Maka aku mencaricari kesempatan untuk bisa bertemu dengannya, lalu mengungkapkan isi hatiku, juga kepadanya. Namun kesempatan itu tak kunjung tiba, hingga aku naik semester dua. Ini bagaimana? hatiku semakin gundah gulana, dilanda rasa cinta.
“Tulis surat saja, kirimi dia surat cinta,” saran seorang teman.
Maka aku menurut saja. Kucari alamat dimana dia melanjutkan studinya, agar suratku tak dibaca keluarganya. Berhasil. memang Tuhan bersama orang yang tak pernah berputus asa. Kini timbul masalah lainnya. Aku belum berpengalaman menulis surat, terutama surat cinta. Bingung lagi, gundah lagi, mumet lagi. Beginilah nasib manusia tanpa katakata. namun aku terus berusaha. Pergi ke pasar lowak, mencaricari buku tentang atau contoh surat cinta. Tak ada. Konon menurut seorang penjual buku, kumpulan Fiksi Surat Cinta belum pernah ada.
“Tulis saja sebisanya, barang dua atau tiga kata,” kembali kawanku menyarnkan.
Maka aku tulis saja sebisanya sebuah surat cinta, untuk kali pertama;
Untukumu, Kawanku.
Aku berharap besar surat ini sampai ke tanganmu, dan tolong segera jika sudah tiba.
salam dariku.
Andi Kuncahyo Wibowo.
Tak butuh waktu lama. Berselang satu minggu kemudian, aku mendapat balasan. Sepucuk surat cinta, dari seorang wanita yang cantik luar biasa nun jauh di kampungku sana.
Salam,
Alhamdulillah, kabarku baik. Sungguh aku senang dan bahagia sekali,  kau masih mengingatku dan berkenan berkirim kabar kepadaku. Bagaimana dengan studimu? Semoga lancar selalu. Masih suka ikut pengajiankah dirimu? Di sini, alhamdulillah aku mendapatkan temanteman baru yang sealiran denganku.
Oh, iya. aku ingin sedikit berdiskusi denganmu. Sekarang ini, seperti yang pernah diungkapkan Nabi Muhammad, ummat Islam sepertinya benarbenar laksana buih. Banyak jumlahnya, namun tak mampu berbuat apa-apa. Banyak dai yang berdakwah namun misi utamanya dagang. Padahal menurutku, mestinya dakwah yang diutamakan, pada saat dia berdagang. Mereka mestinya memberi contoh bagaimana Rosul dulu berdagang. nah, bagaimana menurut pendapatmu?
Kemudian, di bidang teknologi. Kita tahu kan semenjak sekolah dulu, kita selalu dijejali bahwa para ahli teknologi dan penggerak ilmu pengetahuan selalu saja dari non muslim. Tak ada satupun ahli atau penemu rumus dan dalildalil ilmu pengetahuan yang beragama islam. Padahal sesungguhnya, ilmu pengetahuan banyak yang ditemukan oleh tokohtokoh islam. Aljabar, misalnya. Juga algoritma. Masih banyak yang lainnya, yang ditemukan pada massa kejayaan Islam. Nah, menurutmu,  sebagai generasi Islam yang berada di garis depan, apa yang bisa kita lakukan sekarang ini?

Aku berharap, diskusi kita bisa berlanjut.
Aku selalummenunggu suratsuratmu.
salam dariku,
ereteret…
(ttd)
Dheg. Jantungku copot seketika itu, sehabis aku baca balasan surat cinta untukku.. Beginilah nasibku, manusia yang malas membaca buku. Sungguh aku bingung, selamanya aku tak akan mampu menulis surat balasan untuk diskusi semacam itu. Jalanku buntu, tamat sudah cerita cinta di surat pertamaku. Begitu pikirku waktu itu. Tapi tidak, aku akan mampu membalasnya setelah membaca buku. Ke perpustakaan pusat, aku meminjam sebuah buku. “Islam dan Perubahan Sosial-Politik di Negara Sedang Berkembang,” karya John L Esposito. Aku baca buku itu, namun tetap saja aku tak mampu. Tak mampu menulis surat balasan untuk diskusi itu.
Nah, kawan, nasib baik ternyata memihak pada diriku. Pada suatu kesempatan, aku menyaksikan diskusi temanteman jurusan sejarah. Ada seorang mahasiswi yang cerdas luar biasa dalam berdiskusi. Wawasan keilmuannya luas. Aku suka sekali. maka, aku tulis ulang surat cintaku, dan aku titipkan pada temanku.
“Tolong titip buat temanmu itu,” kataku.
Suratku pun terbalas. Pendek. hanya ucapan terima kasih atas kepercayaanku kepadanya, dan janji akan membalas secepatnya. ha.ha.ha… aku menjadi moderator untuk dua hawa yang cantik rupawan luar biasa. Satu di jogja, satu lagi di sampingku. Beruntung sekali aku ini kan, kawanku.
Jarijariku sudah lelah. Sementara itu dulu ceritaku tentang surat cintaku, duhai kekasihku. Harap Dikau jangan cemburu. Saat ini mereka sudah tak lagi di sampingku. Swerr..hanya Engkau seorang yang sekarang ini di hatiku. Percayalah padaku, duhai Langitku.
Besok kusambung,
Salamku.
2011.

No comments:

Post a Comment

mari, kuhargai keikhlasanmu